Now Loading

Bab 8

Para pekerja proyek mulai memasuki area yang hendak dibuat jalan. Beberapa pekerja ada yang mengolah aspalnya. Sisanya meratakan tanah dengan alat berat. Mereka memang sudah biasa bekerja ditengah teriknya matahari begini.

“Panasnya luar biasa ya!”

Fajar berteriak sambil terus bekerja. Pekerja lainnya ikut menyahut dengan berteriak tak jelas. Padahal baru saja mereka mulai bekerja kembali selepas istirahat siang. Es teh yang diminum tadi seolah numpang lewat ditenggorokan saja.

“Halah! Tadi kan abis minum tuh satu teko es teh.”

“Enak aja! Kan bagi dua sama kamu, Nar!”

 

Danar tertawa saja disebut begitu oleh Fajar. Memang dia yang paling banyak minum. Namun tetap saja cuaca siang ini masih membuat keringat mereka banyak bercucuran. Hingga terasa pedih saat mengalir masuk ke dalam mata.

“Tapi ada yang bisa bikin badan makin adem lagi, Nar.”

“Apaan tuh, Jar?”

“Nidurin istrimu, Nar! Abis itu rasanya langsung adeeem!”

Fajar tertawa setelahnya karena ia terniat untuk bercanda saja. Maksud dia adalah Danar kalau mau terasa lebih adem lagi ya bermain diatas kasur bersama istrinya. Wajar juga bercandaan itu didengar. Sebab mereka berdua memang sudah menikah. Namun tak lagi terdengar suara tawa dari Danar setelahnya.

“Maaf, saya sela sebentar cerita ini. Apa Danar merasa tersinggung ya?”

“M-mungkin juga dia t-t-tersinggung sama Fajar, Pak Mandor!”

Ceritanya berlanjut kembali. Entah kenapa malam itu Rohmat sulit sekali tidur. Ia seperti mendengar suara berisik. Laki-laki ini memutuskan untuk keluar dari mess. Berjalan sebentar untuk cari hawa segar. Tapi dia lihat ada dua orang yang tengah ribut.

“Eh, siapa tuh yang lagi ribut?”

Penasaran dengan dua orang itu, Rohmat pun mendekatinya. Ia akhirnya sadar kalau dua orang yang tengah ribut itu adalah Fajar dan Danar. Rohmat berusaha melerainya. Namun tak digubris sama sekali.

“Minggir kamu, Mat! Jangan ikut campur urusan kami.”

Kedua orang itu saling bergulat hingga berguling di tanah bekas galian. Tubuh mereka penuh dengan lumpur. Tangan mereka saling mencekik leher. Hingga Fajar berhasil menendang perut Danar. Tubuh laki-laki itu pun terlempar. Tapi dengan cepat Danar menusukkan sesuatu ke perut Fajar.

“Nar, apa yang kamu lakukan!”

Fajar langsung ambruk sesudah itu. Rohmat baru saja melihat benda yang membuat temannya itu tak bergerak lagi. Matanya membelalak tak percaya jika itu adalah pisau.

“Gila, kamu malah bunuh Fajar!”

 

Bukannya ditanggapi malah justru Danar mencabut pisau tadi dari perut Fajar. Lalu ia gunakan untuk mengancam Rohmat. Laki-laki satu ini hanya bisa menelan ludahnya. Benda tajam itu bisa saja membuat kepalanya terputus dari leher dalam hitungan menit.

“Kamu lihat semuanya tadi kan? Jangan beritahukan siapapun!”

“I-iya, aku tidak akan beritahu siapapun!”

“Kalau ada yang bertanya tentang Fajar, katakan saja kamu tidak tahu.”

Mengangguk saja Rohmat diberi pesan seperti itu. Jantungnya sudah berdegup kencang tak karuan. Rasa mau copot saja dari tempatnya. Tapi akhirnya Danar meninggalkan dia sendirian di tempat itu.

“Begitulah ceritanya yang terjadi waktu itu, Pak Mandor.”

***

Jatmiko rasa tak percaya mendengar cerita itu dari Rohmat. Seharusnya dia juga selidiki dulu kemana perginya Fajar. Sayang, waktu itu ia teramat percaya dengan Danar. Penyesalan dirinya begitu besar. Hanya mampu mengepalkan tangannya erat. Niatnya jika bisa bertemu dengan Danar akan menghajarnya habis-habisan.

“Padahal gajiannya Fajar saya kasih ke Danar. Kasihan juga anak itu!”

“Maaf, saya masih merasa ganjal dengan cerita Pak Rohmat. Tadi disebut ada bekas galian tempat keduanya berkelahi. Kenapa di tengah jalan ada bekas galian, Pak Jatmiko.”

“Begini, Pak Polisi. Galian itu memang saya suruh Fajar dan Danar buat. Karena kondisi jalanan yang sejak awal sudah berlubang.”

“Betul itu, Pak Polisi! Memang ada lubang yang agak dalam. Kerbau yang lewat jalanan itu sering berkubang lumpur disana.”

Pak Yanto selaku Kades pun menegaskan keterangan Jatmiko. Memang lubang itu sudah berulang kali ditutup dengan tanah biasa. Tapi tetap saja jeblos ke dalam hingga membahayakan siapapun yang lewat.

“Makanya saya waktu itu berpikir untuk menggalinya lebih lebar dan dalam lagi. Baru nanti ditimbun pakai urugan tanah serta dipadatkan. Supaya setelah diaspal tidak amblas lagi, Pak Polisi.”

Begitulah keterangan Jatmiko yang menjelaskan tentang lubang itu. Semuanya sudah jelas terbongkar. Rombongan tadi pun bergegas menuju ke kampung tempat Danar dan Fajar tinggal. Sekalipun jaraknya jauh dengan kampung tempat Rohmat tinggal tadi.

“Selamat siang, betul ini rumahnya Pak Fajar?”

“Eeh, ya betul Pak Polisi! I-ini ada apa ya? Tapi maaf suami saya sudah lama tidak tinggal disini.”

“Ada hal yang ingin kami sampaikan mengenai Pak Fajar. Maaf anda adik atau siapanya?”

“S-saya istrinya Mas Fajar, Pak Polisi!”

Kebetulan sekali mereka bertemu langsung dengan istrinya Fajar. Semuanya dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Nampak ada anak laki-laki berlari kecil menghampiri perempuan itu. Sambil memeluknya dengan manja.

“Le, Ibu mau bikin minuman dulu buat Pak Polisi tuh sama tamu lainnya. Kamu main dulu di luar ya!”

“Ya, Bu!”

Anak laki-laki itu pun keluar dari rumah. Sambil berteriak riang entah kemana. Sementara suguhan air minum biasa mulai diberikan oleh perempuan ini.

“Maaf ya, saya hanya punya ini saja.”

“Tidak masalah, Bu. Kami boleh tahu, kalau rumah Pak Danar yang mana?”

“Oh, masih jauh lagi Pak Polisi! Tapi Mas Danar sudah meninggal dua bulan yang lalu.”

Semuanya pun terkejut mendengar ini. Namun mereka tak punya banyak waktu lagi. Jatmiko yang menceritakan semuanya pada istrinya Fajar. Malah perempuan itu tak percaya dengan yang didengarnya. Wajahnya nampak sedih saat berusaha menceritakan tentang suaminya. Ia menutupi mulutnya dengan tangan untuk menahan tangisannya.

“Saya dengar Mas Fajar menikah lagi sama perempuan lain di tempat proyek itu. Makanya tidak pulang kemari sampai sekarang.”

“Mbaknya ini dengar kabar begitu dari siapa?”

“Saya dengar dari Mas Danar sendiri, Pak.”

“Wooo! Kebangetan memang si Danar itu. Tapi Danar sudah meninggal ya, mbak?”

Mengangguk saja istrinya Fajar itu. Dia sebenarnya marah bercampur sedih. Tapi apa yang bisa dia perbuat? Tentu saja uang gajian suaminya tak pernah sampai ke tangannya. Makin geram Jatmiko dengan ulah Danar.

“Tapi Pak i-ini beneran ya? Saya...nggak menyangka kalau ini yang sebenarnya terjadi. MAS FAJAAAAAR!”

Bruuk!

“Lho...lho...mbak bangun mbak!”

Istrinya Fajar yang tak kuat lagi mendengar berita ini akhirnya pingsan. Malah mereka sibuk untuk menyadarkannya dibantu warga lainnya. Menurut keterangan warga di kampung ini, Danar meninggal dengan tak wajar. Bahkan sebelum kematiannya ia sering beteriak sendiri. Seolah ada yang hendak memburu dirinya. Begitulah akhir riwayat sang pembunuh.

***

Semua keterangan sudah didapatkan. Pihak yang terkait kembali ke Desa Langgar Jati. Sesuai dengan perintah Mbah Sujiwo. Para pekerja yang dikoordinir oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum pun diterjunkan. Masih mengerahkan dari perusahaan kontraktor yang sama. Mereka membuka aspal untuk mencari kuburan Fajar.

“Jangan diangkat dulu! Coba dibersihkan itu sepertinya ada tulang manusia.”

Jatmiko masih menjadi mandornya. Dia minta apa yang nampak sebagai tulang itu dibersihkan saja dari tanah yang ada. Tiba-tiba jarinya menunjuk ke arah lubang galian. Sampai Pak Yanto, Pak Winarno serta satu orang polisi menghampirinya.

“Ada apa, Pak Jatmiko?”

“I-iya, ini memang bajunya Fajar! Saya hapal betul baju yang sering dia pakai kalau pas kerja.”

Akhirnya kerangka berbaju itu mulai diangkat perlahan. Istri Fajar dan keluarganya saat didatangi memang sudah memasrahkan soal pemakamannya. Mereka tak meminta untuk dikubur di tempat asalnya. Pak Yanto selaku Kades akhirnya memutuskan untuk memakamkan jasad Fajar di pemakaman umum yang ada di desanya. Sejak saat itu, kecelakaan maut tak pernah lagi terjadi disana.

SELESAI